Pekanbaru Gagal di 2025, Targetkan Piala Adipura 2026

Jumat, 13 Maret 2026

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho saat meresmikan kawasan kelompok masyarakat sadar sampah (kemas) di Kelurahan Labuh Baru Timur, Payung Sekaki, Senin (2/3/2026). (Foto: Kominfo Pekanbaru)

SIARAN.CO.ID, PEKANBARU— Gagal meraih penghargaan Adipura pada 2025 menjadi momentum evaluasi besar bagi Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru. Pembenahan menyeluruh, terutama pada pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kini menjadi fokus utama untuk menatap target Piala Adipura 2026.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, mengungkapkan bahwa, pada penilaian 2025 tidak satu pun daerah di Indonesia yang berhasil meraih Piala Adipura karena sistem penilaian yang semakin ketat dan komprehensif.

“Pada 2025 memang tidak ada daerah yang mendapatkan Piala Adipura. Hanya 35 daerah yang memperoleh Sertifikat Adipura,” ujar Reza dalam keterangan pers nya, Jumat (13/3/2026).

Secara nasional, posisi Pekanbaru sebenarnya cukup kompetitif. Dari sekitar 300 kabupaten/kota di Indonesia, Pekanbaru berada di peringkat ke-48 dan menjadi yang tertinggi di Provinsi Riau. Bahkan, selisih nilai Pekanbaru hanya 1,1 poin untuk bisa meraih Sertifikat Adipura.

“Artinya kita sudah sangat dekat. Ini menjadi motivasi sekaligus pengingat bahwa ada aspek yang harus kita benahi secara serius, terutama di TPA,” tegas Reza.

Menurutnya, sistem penilaian Adipura kini tidak lagi sekadar menilai kebersihan jalan protokol dan kawasan permukiman. Aspek krusial yang menjadi penentu adalah tata kelola TPA. Di titik inilah Pekanbaru dinilai masih perlu melakukan pembenahan serius.

“Untuk kebersihan jalan protokol dan perumahan sebenarnya sudah cukup baik dari sebelumnya," kata Reza.

Dia juga menegaskan, apalagi sekarang dibantu oleh Lembaga Pengelola Sampah (LPS). "Namun pengelolaan TPA sebelumnya memang belum optimal,” jelasnya.

Saat ini, Pemko Pekanbaru tengah melakukan pembenahan pengelolaan TPA Muara Fajar melalui kerja sama dengan pihak ketiga (berproses). Optimalisasi sistem pengelolaan, pengurangan timbunan sampah, hingga peningkatan standar operasional menjadi prioritas agar TPA tidak lagi menjadi titik lemah dalam penilaian nasional.

Ia optimistis, dengan pembenahan maksimal sepanjang 2026, Pekanbaru tidak hanya menargetkan Sertifikat Adipura, tetapi juga membuka peluang meraih Piala Adipura.

Ke depan, penilaian Adipura juga akan lebih menitikberatkan pada pemilahan sampah dari sumber. Konsepnya, semakin sedikit sampah yang masuk ke TPA, semakin tinggi nilai yang diperoleh daerah.

“Yang masuk ke TPA seharusnya hanya residu. Semakin banyak masyarakat memilah sampah dari rumah, maka nilai kita akan semakin baik,” katanya.

Langkah Wali Kota Pekanbaru meresmikan kawasan kelompok sadar sampah dinilai menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Program ini akan terus digencarkan hingga tingkat RT dan RW guna membangun budaya pilah sampah dari rumah tangga.

Selain itu, program penukaran sampah menjadi uang yang mendorong partisipasi masyarakat juga masuk dalam indikator penilaian Adipura. Skema ini dinilai efektif menekan volume sampah sekaligus meningkatkan kesadaran warga.

“Ini soal sistem, konsistensi, dan partisipasi semua lini. Kegagalan 2025 harus menjadi modal perbaikan bersama,” ujarnya.(srn1)