
Tengku Azwendi Fajri
SIARAN.CO.ID, PEKANBARU– Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang sempat beredar luas di Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Riau memicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Kondisi ini bahkan membuat warga rela berkeliling hingga larut malam demi mendapatkan BBM.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan sudah terjadi sejak akhir April 2026. Sepeda motor tampak mendominasi antrean untuk mendapatkan Pertalite, sementara kendaraan roda empat hingga truk mengincar Bio Solar. Bahkan, antrean di beberapa titik meluber hingga ke badan jalan.
Situasi serupa tidak hanya terjadi di Pekanbaru, tetapi juga meluas ke wilayah Kabupaten Pelalawan dan Kampar. Sejumlah warga mengaku harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain karena stok yang kerap kosong.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Tengku Azwendi Fajri SE MM, meminta pihak Pertamina segera memberikan penjelasan transparan kepada masyarakat guna menghindari spekulasi yang berkembang.
Ia juga secara tegas mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying yang justru memperparah situasi di lapangan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu panik. Informasi yang kami terima, stok BBM kita masih aman. Hanya saja terjadi peningkatan konsumsi karena momen libur panjang,” ujar Azwendi kepada wartawan, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, perilaku panic buying justru dapat memicu kelangkaan semu dan memperpanjang antrean di SPBU.
“Jangan sampai terjadi panic buying, karena itu justru bisa memperparah kondisi di lapangan,” tegasnya dikutip siaran.co.id dari riauaktual.com.
Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan bahwa stok BBM di wilayah Riau dalam kondisi aman dan mencukupi. Mereka menegaskan tidak ada pengurangan kuota BBM.
Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengklaim, bahwa lonjakan antrean dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang libur panjang pada 1–3 Mei 2026, serta tingginya mobilitas warga.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina telah meningkatkan penyaluran BBM jenis Pertalite dan Bio Solar hingga 20 persen dari rata-rata normal.
Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya SPBU yang kehabisan stok, sehingga masyarakat terpaksa berburu BBM. Sejumlah sopir truk, termasuk pengangkut sawit, bahkan harus menunggu berjam-jam sejak pagi hingga sore, dan tidak sedikit yang pulang tanpa mendapatkan BBM.
Di tengah kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap rasional dalam membeli BBM dan mengakses informasi dari sumber resmi. Kepanikan yang berlebihan dikhawatirkan hanya akan memperburuk distribusi dan ketersediaan BBM di lapangan.
Sebagai langkah bijak, warga disarankan mengisi BBM di waktu-waktu sepi, seperti subuh atau siang hari, serta memanfaatkan aplikasi MyPertamina untuk memantau ketersediaan BBM di SPBU terdekat.
"Semua pihak diharapkan dapat menjaga kondusivitas dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi," pesan Azwendi mengakhiri pembicaraan. (srn1)