
President Director & CEO PT Nawakara Perkasa Nusantara, Dino B Hindarto ST ICPS. (Foto: nawakara)
SIARAN.CO.ID, PEKANBARU– Transformasi industri berbasis Artificial Intelligence (AI) menjadi sorotan utama dalam Global AI+IoT Ecology Summit 2026 yang digelar di Pan Pacific Singapore.
Dalam forum internasional tersebut, President Director & CEO PT Nawakara Perkasa Nusantara, Dino B Hindarto ST ICPS, hadir sebagai keynote speaker dan menyampaikan pandangan strategis terkait dampak AI terhadap industri serta kesiapan Indonesia menghadapi era transformasi digital.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Zhejiang Entrepreneurs Center, pada 29-30 April 2026 itu mempertemukan para pemimpin industri, pakar AI+IoT, serta lebih dari 300 perwakilan bisnis dari berbagai negara. Forum tersebut membahas perkembangan teknologi dan implementasinya di berbagai sektor, mulai dari keamanan, manufaktur, hingga layanan digital.
Dalam pidatonya bertajuk “AI Impact on Our Industry and How Indonesia Prepares for the Challenge”, Dino menegaskan bahwa dunia saat ini tengah memasuki fase transformasi besar yang setara dengan revolusi listrik dan internet.
Menurutnya, AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan telah menjadi kekuatan nyata yang mengubah cara bisnis beroperasi, mengambil keputusan, hingga menciptakan nilai tambah.
“AI memungkinkan kita beralih dari sistem kerja yang reaktif menjadi prediktif dan preventif. Ini mengubah cara kita mengelola risiko, meningkatkan efisiensi operasional, serta memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” ujar Dino dalam rilisnya, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, dalam sektor industri, khususnya bidang keamanan dan layanan, AI berperan penting dalam meningkatkan akurasi analisis, otomatisasi proses, hingga optimalisasi produktivitas. Berbagai pekerjaan yang bersifat repetitif kini mulai digantikan oleh sistem otomatis, sehingga sumber daya manusia dapat lebih difokuskan pada fungsi strategis seperti pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan interaksi sosial.
Meski demikian, Dino menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
“AI tidak menggantikan kepemimpinan, etika, dan tanggung jawab. Justru AI memperkuat peran mereka yang siap, dan menjadi tantangan bagi yang tidak siap,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dino juga memaparkan empat pilar utama kesiapan Indonesia menghadapi era AI.
Pertama, Indonesia memiliki keunggulan demografis melalui populasi muda yang dinilai adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Kedua, peningkatan literasi AI dan program reskilling tenaga kerja mulai diperkuat melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan sektor industri.
Ketiga, penguatan ekosistem digital nasional terus berkembang, ditandai dengan pertumbuhan infrastruktur cloud, pusat data, startup, hingga pusat inovasi yang memperluas akses teknologi, termasuk bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Keempat, aspek regulasi dan tata kelola juga mulai diperkuat guna memastikan penggunaan AI berlangsung secara etis, aman, dan bertanggung jawab, khususnya dalam perlindungan data dan keamanan siber.
Lebih lanjut, Dino mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia di era AI tidak hanya ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam pemanfaatannya.
Menurutnya, AI harus mampu mendorong pertumbuhan yang inklusif, meningkatkan ketahanan industri, serta memperkuat daya saing nasional di tingkat regional maupun global.
“AI bukan ancaman bagi industri kita. Ancaman sebenarnya adalah sikap terlena. Jika kita mampu menggabungkan teknologi dengan talenta, inovasi dengan etika, serta kecepatan dengan tujuan yang jelas, Indonesia tidak hanya akan beradaptasi, tetapi juga mampu memimpin di era AI,” ungkapnya.
Untuk itu disampaikan juga, Partisipasi Nawakara dalam forum global tersebut sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong inovasi keamanan berbasis teknologi serta memperkuat kolaborasi internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.(srn1)