Kolam Aquatic Eks PON 2012 Rumbai Terbengkalai, Atlet Freedive Desak Pemprov Riau Bertindak

Kamis, 28 Mei 2026

Kondisi kolam dengan air berwarna hijau karena lumut.

SIARAN.CO.ID, PEKANBARU— Kondisi kolam dalam Aquatic Rumbai eks PON XVIII 2012 kian memprihatinkan. Fasilitas olahraga yang dibangun menggunakan anggaran besar itu kini terbengkalai, dipenuhi lumut, air berubah hijau, serta digenangi sampah tanpa penanganan serius selama bertahun-tahun.

Kerusakan kolam sedalam lima meter tersebut memicu protes dari Komunitas Freedive Pekanbaru. Mereka menilai Pemerintah Provinsi Riau lalai menjaga aset olahraga yang seharusnya menjadi pusat pembinaan atlet air di daerah.

“Kolam dalam ini sangat penting untuk freediving, scuba training, loncat indah, rescue water training, hingga olahraga selam prestasi. Tapi sekarang justru dibiarkan rusak,” kata anggota Komunitas Freedive Pekanbaru, Aldo, Kamis (28/5/2026).

Menurutnya, kondisi Aquatic Rumbai menunjukkan kemunduran pembinaan olahraga air di Riau. Padahal sejumlah provinsi tetangga seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan hingga Bangka Belitung masih aktif memanfaatkan fasilitas aquatic mereka untuk latihan dan pembinaan atlet.

“Riau malah tertinggal. Padahal Pekanbaru sangat membutuhkan sarana latihan air dalam yang layak karena bukan daerah pesisir,” ujarnya.

Komunitas Freedive Pekanbaru sendiri kini memiliki sekitar 300 anggota. Sebanyak 20 orang di antaranya telah mengantongi sertifikasi internasional. Namun keterbatasan fasilitas membuat mereka terpaksa berlatih di kolam dangkal dengan kedalaman sekitar 1,8 meter yang dinilai tidak memenuhi standar latihan freedive.

“Kalau pakai long fins sering mengganggu perenang umum karena ruang latihan sangat terbatas,” ujar Aldo lagi.

Aldo menyebut kerusakan kolam dalam sudah berlangsung lama tanpa ada langkah konkret dari pemerintah maupun pihak pengelola. Dari tiga kolam yang ada di Aquatic Rumbai, hanya kolam kecil dan kolam atlet yang masih digunakan masyarakat.

“Kolam dalam ini sudah lama rusak. Fasilitasnya hancur. Tiga tahun terakhir tidak ada perbaikan. Sementara cabang olahraga kami sangat bergantung pada kolam ini,” tegasnya.

Setiap akhir pekan, sedikitnya 50 anggota komunitas rutin berlatih di kawasan tersebut. Belum termasuk atlet-atlet junior yang mulai berkembang. Minimnya fasilitas membuat sebagian atlet terpaksa mencari tempat latihan ke luar daerah.

“Sudah setahun terakhir kami rutin latihan ke Padang, minimal sebulan sekali,” ungkap Aldo.

Selain menghambat pembinaan olahraga, kondisi kolam yang dipenuhi air hijau dan lumut juga dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Komunitas freedive khawatir kolam terbengkalai itu menjadi sumber penyakit dan mencemari area kolam lain yang masih dipakai masyarakat.

Ditegaskannya, hingga kini belum ada penjelasan resmi terkait penyebab kolam dalam tidak difungsikan. Berbagai isu berkembang di masyarakat, mulai dari hilangnya mesin, kerusakan sistem filtrasi, kebocoran, hingga alasan keterbatasan anggaran.

Komunitas freedive bersama masyarakat pecinta olahraga air mendesak Pemprov Riau, khususnya instansi terkait, segera turun tangan menyelamatkan aset olahraga eks PON tersebut sebelum kerusakan semakin parah.

“Miliaran rupiah uang negara pernah dihabiskan untuk membangun fasilitas ini. Sangat disayangkan kalau akhirnya hanya menjadi bangunan terbengkalai tanpa manfaat. Aquatic Rumbai seharusnya menjadi pusat pembinaan atlet dan olahraga air di Riau, bukan dibiarkan rusak dan terlupakan,” tutup Aldo.(srn4)