
Tekad Indra Pradana Abidin.
SIARAN.CO.ID, PEKANBARU– Pemko Pekanbaru telah memperbolehkan siswa SD dan SMP kembali mengikuti proses belajar mengajar (PBM) secara tatap muka di sekolah seiring membaiknya kualitas udara. Namun, DPRD Kota Pekanbaru meminta langkah antisipasi tetap diperkuat untuk mencegah dampak kabut asap terhadap kesehatan peserta didik.
Berita terkait;
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Tekad Indra Pradana Abidin, meminta Pemko Pekanbaru melalui Dinas Pendidikan menyediakan masker gratis bagi siswa. Selain itu, sekolah juga diminta menyiapkan oksigen portable sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kondisi darurat akibat memburuknya kualitas udara.
"Kualitas udara sudah membaik. Tapi kami meminta memang agar kualitas udara ini dipantau setiap hari," kata Tekad.
Menurutnya, Dinas Pendidikan perlu berkoordinasi dengan BMKG dan Dinas Kesehatan untuk menentukan kebijakan pembelajaran pada hari berikutnya. Pemantauan itu, kata dia, idealnya dilakukan pada malam hari sehingga keputusan pembelajaran tatap muka atau daring dapat disesuaikan dengan kondisi terkini.
"Kalau bisa Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan BMKG dan Dinas Kesehatan setiap jam 7 malam atau jam 8 malam. Hari berikutnya apakah kita tetap buka atau daring," ujarnya.
Tekad menyebut berdasarkan prakiraan cuaca, Pekanbaru masih memiliki potensi hujan yang cukup tinggi. Namun, arah angin dari wilayah selatan Pulau Sumatera juga perlu menjadi perhatian karena berpotensi membawa asap kiriman dari daerah lain menuju Pekanbaru.
"Yang penting selalu dipantau, dimonitor. Karena dari perkiraan cuaca memang Pekanbaru potensi hujannya sangat tinggi. Tetapi angin juga dari selatan ke utara, artinya dari Jambi, dari Palembang juga masih ke arah Pekanbaru," jelasnya.
Dia menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi meski titik api di Kota Pekanbaru relatif tidak menjadi sumber utama persoalan asap. Sebab, kualitas udara di Pekanbaru juga dapat dipengaruhi asap dari wilayah sekitar maupun daerah lain di Pulau Sumatera.
"Kalau Kota Pekanbaru kan titik api bisa dikatakan tidak ada. Kita memang dari daerah sekitarnya. Yang kita khawatirkan sekarang ini asap kiriman," katanya.
Tekad meminta sekolah meminimalisir kegiatan siswa di luar ruangan. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mengurangi potensi paparan asap apabila kualitas udara kembali memburuk.
"Untuk di sekolah juga kita harapkan para kepala sekolah agar meminimalisir kegiatan di luar ruangan," tegasnya.
Tak hanya di sekolah, DPRD juga mendorong fasilitas kesehatan seperti puskesmas menyiapkan oksigen portable sebagai bentuk kesiapsiagaan.
Menurut Tekad, langkah tersebut diperlukan apabila terjadi gangguan pernapasan secara tiba-tiba di tengah kondisi udara yang tidak sehat.
"Kalau perlu di setiap puskesmas sudah boleh distok beberapa oksigen portable. Jika memang ada kejadian-kejadian yang tiba-tiba di luar prediksi kita, itu bisa cepat ditanggulangi," katanya.
Tekad mengatakan anak-anak merupakan kelompok yang harus mendapat perhatian dalam kondisi kualitas udara yang fluktuatif. Jika terjadi gangguan pernapasan secara tiba-tiba, penanganan awal harus dapat dilakukan dengan cepat.
"Karena ini kan anak-anak. Kalau soal ISPA nanti tiba-tiba sesak napas dan lain-lain, jadi tidak terjadi hal-hal yang merugikan kita bersama," ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan agar setiap sekolah memiliki stok masker dan, bila memungkinkan, satu hingga dua unit oksigen portable untuk kondisi darurat.
"Kalau bisa di-stok saja di setiap sekolah, jadi standby. Masker dan oksigen, mungkin satu-dua biji oksigen portable di sekolah jika memang diperlukan," katanya.
Menurutnya, penyediaan fasilitas tersebut bukan berarti sekolah mengabaikan kebijakan tatap muka, melainkan sebagai bentuk kesiapsiagaan untuk memastikan keselamatan peserta didik tetap menjadi prioritas.
"Antisipasi. Artinya keselamatan anak-anak kita ini tentu yang utama," tegas Tekad.(srn1)