
Muhammad Akhyar

Oleh: M. Akhyar Chomel, S.Sos
Ketua Sahabat Lingkungan Hidup (SLH) Riau
Dalam pandangan tasawuf, hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam bukanlah tiga hal yang terpisah. Ketiganya terikat dalam satu jalinan yang sangat dalam, terutama dalam perjalanan manusia untuk mengenal dan mendekat kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.
Alam adalah ciptaan-Nya. Manusia adalah makhluk yang diberi amanah untuk menjaga dan memakmurkannya. Karena itu, ketika manusia merusak alam, sesungguhnya yang terganggu bukan hanya keseimbangan ekologis, tetapi juga hubungan spiritual manusia dengan Sang Pencipta.
Alam Sebagai Ayat-Ayat Tuhan
Dalam khazanah tasawuf, alam dipandang sebagai ayat, yakni tanda-tanda kebesaran Allah. Langit yang luas, laut yang dalam, hutan yang rimbun, sungai yang mengalir, tanah, pepohonan, hingga seluruh makhluk hidup adalah manifestasi dari kekuasaan-Nya.
Maka, menjaga alam bukan sekadar persoalan ekologis atau program lingkungan semata. Ia adalah bagian dari perjalanan batin, bagian dari cara manusia mengenal Tuhannya melalui ciptaan-Nya.
Manusia Sebagai Khalifah, Bukan Perusak
Al-Qur'an menegaskan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kedudukan yang mulia ini bukan lisensi untuk mengeksploitasi alam sesuka hati.
Justru sebaliknya, amanah sebagai khalifah menuntut tanggung jawab besar: menjaga keseimbangan, merawat kehidupan, dan mencegah segala bentuk kerusakan.
Tasawuf mengajarkan manusia untuk membersihkan hati dari tiga penyakit batin: keserakahan, keangkuhan, dan cinta berlebihan terhadap dunia. Ketika hati dipenuhi keserakahan, alam hanya akan dipandang sebagai komoditas dan sumber keuntungan sesaat.
Namun ketika hati telah mengenal Allah, alam akan dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh kasih.
Mencintai Alam Adalah Ibadah
Karena itu, mencintai alam merupakan bagian dari akhlak kepada Allah.
Menanam pohon, menjaga sungai, melindungi hutan, merawat laut dan mangrove, serta mencegah pencemaran, bukanlah sekadar tindakan sosial. Jika dilakukan dengan kesadaran bahwa semua makhluk berada dalam ciptaan dan kehendak Allah, maka semua itu bernilai ibadah.
Dalam perspektif tasawuf, kerusakan alam sering kali menjadi cermin dari kerusakan batin manusia. Ketika nafsu untuk menguasai dan mengambil tanpa batas mengalahkan rasa syukur dan tanggung jawab, maka alam pun menjadi korban pertama.
Perlu Pertobatan Ekologis
Maka yang kita butuhkan hari ini adalah pertobatan ekologis.
Pertobatan yang tidak berhenti pada ucapan dan seremoni, tetapi diwujudkan melalui perubahan perilaku yang nyata: mengakui kesalahan, menghentikan tindakan yang merusak, memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, dan membangun kembali hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.
Sahabat Lingkungan Hidup (SLH) memandang bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, atau kelompok tertentu. Ini adalah tanggung jawab seluruh manusia sebagai makhluk Tuhan.
Sebab, hubungan dengan Tuhan akan melahirkan kesadaran.
Kesadaran akan melahirkan kasih kepada sesama.
Dan kasih kepada sesama akan melahirkan kepedulian terhadap alam.
Pada akhirnya, menjaga alam adalah menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah bagian dari menjaga amanah yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Bagi seorang yang berjalan dalam jalan tasawuf, ketika ia memandang alam dengan mata hati, ia tidak hanya melihat ciptaan. Ia melihat tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.*