BI Ingatkan Masyarakat Waspadai Penipuan Digital di Tengah Kemudahan Transaksi

Senin, 28 September 2026

Bank Indonesia mengingatkan masyarakat mewaspadai enam modus penipuan digital, mulai dari link palsu hingga QR payment scam, di tengah pesatnya digitalisasi sistem pembayaran. (FOTO: siaranCoId)

SIARAN.CO.ID, JAKARTA– Bank Indonesia (BI) mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya mengejar kemudahan dalam bertransaksi, tetapi juga meningkatkan literasi dan kewaspadaan terhadap risiko penipuan digital atau fraud. Pasalnya, pesatnya digitalisasi keuangan juga dibarengi dengan modus kejahatan siber yang terus berkembang.

Deputi Direktur Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI, One Yusril Fikar, mengatakan digitalisasi telah mengubah total pola transaksi masyarakat. Jika dulu transaksi perbankan terbatas pada jam operasional, kini dapat dilakukan kapan pun secara instan.

"Dulu kalau kita mau melakukan transaksi harus menunggu jam kerja. Sekarang mau transaksi jam 2 pagi atau jam 3 pagi pun secara instan bisa dilakukan," ujar One, akhir pekan lalu.

Menurutnya, kemudahan melalui kartu ATM, kartu kredit, hingga mobile banking memang memberikan manfaat besar. Namun di sisi lain, ruang digital juga dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melancarkan berbagai modus penipuan.

"Masyarakat masih kerap menjadi sasaran pesan, telepon atau komunikasi digital dari pihak yang mengaku sebagai bank, perusahaan jasa pengiriman hingga penyelenggara program hadiah," ungkapnya.

One menyebut, serangan fraud saat ini sangat masif. Masyarakat hampir pasti pernah menerima telepon, WhatsApp, atau SMS dari nomor tidak dikenal yang mengatasnamakan bank, jasa pengiriman, hingga penawaran hadiah.

Bahkan, pelaku kini semakin canggih. Mereka tidak lagi mengirim pesan acak, melainkan memanfaatkan informasi transaksi korban untuk membangun kepercayaan.

Salah satu modusnya adalah menghubungi korban tidak lama setelah bertransaksi, dengan menyampaikan detail yang seolah-olah mengetahui aktivitas korban.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai tautan palsu yang menyerupai situs resmi. Perubahan kecil pada alamat situs, seperti tambahan angka atau karakter, bisa menjebak pengguna untuk masuk ke laman palsu.

"Perubahan kecil pada alamat situs, seperti tambahan angka atau karakter tertentu, dapat membuat pengguna masuk ke laman yang bukan merupakan situs resmi," pungkas One.(srn3)