
Kepala Kanwil DJP Riau YFR Hermiyana (tengah) dan jajaran memaparkan kinerja penerimaan pajak Riau hingga 30 September 2026 pada konferensi pers APBN KITA di Pekanbaru, Senin (26/10/2026). (FOTO: djp)
SIARAN.CO.ID, PEKANBARU- Kinerja penerimaan pajak di Provinsi Riau mencatatkan tren sangat positif.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Riau, YFR Hermiyana, dalam keterangan resminya mengungkapkan sampai dengan 30 September 2026 penerimaan negara dari sektor perpajakan berhasil mencapai Rp13,23 triliun (neto).

“Penerimaan neto sampai 30 September 2026 sebesar Rp13,23 triliun, terealisasi 64,99 persen dari target yang ditetapkan dalam KEP-151/PJ/2026 sebesar Rp20,35 triliun. Secara bruto, penerimaan terkumpul Rp15,92 triliun atau tumbuh 6,71 persen. Kinerja neto ini tumbuh sangat positif sebesar 28,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2025,” ujar YFR Hermiyana, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, Kelompok Pajak Penghasilan (PPh) menjadi motor pertumbuhan, terutama PPh Badan yang melonjak tajam.
“PPh Badan mengalami peningkatan tajam sebesar 126,80 persen dengan realisasi Rp3.559,42 miliar. PPh Badan menjadi pengungkit utama dengan menyumbang 26,91 persen dari total penerimaan, ditopang setoran masa PPh Pasal 25/29 Badan serta tindak lanjut pengawasan kepatuhan material sektor basis,” jelasnya.
Selain itu, PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 juga mencatatkan kinerja solid. “Kelompok ini tumbuh 41,82 persen atau Rp402,84 miliar, didorong PPh Pasal 21 sebesar Rp1.090 miliar yang tumbuh 46,72 persen. Ini mengindikasikan perbaikan likuiditas penggajian dan penyerapan tenaga kerja regional. Sementara PPh Final, Pasal 22, dan Pasal 26 turut tumbuh 6,56 persen atau Rp902,26 miliar,” tambahnya.
Untuk PPN dan PPnBM, YFR menyebut kontribusinya masih yang terbesar. “Kelompok PPN dan PPnBM menjadi kontributor terbesar dengan porsi 52,31 persen, mengumpulkan Rp6.918,93 miliar atau tumbuh 18,19 persen. Peningkatan didorong PPN Dalam Negeri yang tumbuh 20,41 persen menjadi Rp6,40 triliun, mencerminkan kuatnya aktivitas industri pengolahan dan perputaran rantai pasok domestik di Riau,” paparnya.
Dari sisi sektoral, Perdagangan Besar masih dominan, namun Industri Pengolahan mencatat lompatan tertinggi.
“Sektor Perdagangan Besar tetap kontributor terbesar 29,81 persen dengan pertumbuhan 11,42 persen atau Rp404,09 miliar. Sedangkan Industri Pengolahan mencatatkan lompatan pertumbuhan tertinggi 104,97 persen atau Rp1,68 triliun dan menyumbang 56,4 persen dari total tambahan penerimaan Kanwil. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh stabil 18,45 persen atau Rp374,22 miliar, serta Konstruksi dan Real Estate tumbuh 27,27 persen atau Rp117,38 miliar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kelompok Pajak Lainnya mengalami kontraksi. “Kelompok ini terkontraksi -53,08 persen atau Rp478,96 miliar, terutama dipengaruhi aktivitas Pemindahbukuan (PBK) saldo Deposit Pajak yang terpakai sebesar -Rp514,23 miliar, serta penurunan PBB P5L sebesar -Rp41,57 miliar atau -27,56 persen, khususnya PBB Perkebunan -Rp51,79 miliar akibat penertiban lahan oleh Satgas PKH,” jelasnya.
Terkait kepatuhan, YFR menyampaikan capaian yang cukup tinggi. “Realisasi penyampaian SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2025 yang dilaporkan pada 2026 telah mencapai 402.815 SPT dari target 441.879 SPT, atau rasio kepatuhan sebesar 88,66 persen,” katanya.
Untuk sisa target tahun ini, pihaknya telah menyiapkan strategi.
“Untuk mengamankan sisa target 35,01 persen atau sekitar Rp7,12 triliun hingga akhir tahun, kami akan terus berinovasi dan berkolaborasi dengan seluruh stakeholder seperti pemerintah daerah, aparat penegak hukum, instansi, lembaga, asosiasi, serta yang paling utama adalah Wajib Pajak sebagai mitra kerja strategis guna mengoptimalkan penerimaan negara demi mendukung pembangunan nasional,” tutupnya.(srn3)