SIARAN.CO.ID, PEKANBARU- Masyarakat Kota Pekanbaru diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski kondisi udara yang berada pada kategori sangat tidak sehat namun warga masih banyak beraktivitas, untuk itu aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama ketika paparan asap semakin pekat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Riau, Supriyadi, mengimbau masyarakat tidak mengabaikan kondisi kualitas udara. "Warga yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar rumah disarankan mengurangi aktivitas di ruang terbuka," katanya.
Imbauan tersebut menjadi penting karena kabut asap karhutla mengandung partikulat halus, termasuk PM2.5, yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kondisi fisik atau merasa masih mampu beraktivitas sebagai ukuran keamanan.
"Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan. Warga juga sebaiknya mengurangi durasi berada di luar ruangan dan menghindari aktivitas fisik berat di tengah kondisi udara yang tercemar," tuturnya.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap pencemaran udara perlu mendapat perhatian lebih. Aktivitas mereka di luar ruangan sebaiknya benar-benar dibatasi ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi udara Pekanbaru, Senin (24/8/2026) juga menunjukkan situasi yang perlu diwaspadai. Pantauan BMKG pagi hari mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 180,6 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Situasi tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Riau. BMKG juga mencatat 491 hotspot di Provinsi Riau, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir.
Dampak buruk kualitas udara juga mulai memengaruhi aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik PAUD/TK, SD hingga SMP sebagai langkah perlindungan terhadap paparan kabut asap.
Pemerintah mengingatkan masyarakat agar menjadikan informasi kualitas udara sebagai dasar dalam menentukan aktivitas harian. Ketika kualitas udara memburuk, mengurangi aktivitas di luar rumah bukan berarti menghentikan seluruh kegiatan, tetapi merupakan langkah pencegahan untuk menekan risiko paparan polutan.
Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, atau gangguan kesehatan lainnya setelah terpapar asap.(srn3)