SIARAN.CO.ID, PEKANBARU– Memanfaatkan momentum Ramadan 1447 Hijriah, Rumah Baca Teratak Literasi menggelar diskusi publik bertajuk agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Palestina dan Iran, serta dampaknya terhadap perdamaian global, dilaksanakan di Sekretariat Teratak Literasi, Perum Mansion, Jalan Pertanian Blok E3, Pekanbaru, Minggu (8/3/2026) petang.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Pakar Keamanan Internasional Universitas Islam Riau (UIR) Assoc Prof Dr Rendi Prayuda SIP MSi, aktivis AGRA dan APC Indonesia Rendy Pradana Khamsy SE, serta Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr Dina Y Sulaeman, dan Founder Rumah Baca Teratak Literasi, Nugroho Noto Susanto SIP MSi.
Dr Dina Y Sulaeman yang juga dikenal sebagai analis geopolitik dan aktivis perempuan, menyampaikan materi melalui sambungan Zoom Meeting, bertajuk “Perlawanan Iran: Kekuatan, Ideologi, dan Masa Depan Revolusi Islam Iran.” Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa ideologi Revolusi Islam Iran dinilai masih menjadi fondasi utama dalam menghadapi tekanan geopolitik dari negara-negara Barat.
Sementara itu, Rendy Pradana Khamsy membawakan materi mengenai dinamika politik global yang dikaitkan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai konflik yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari kepentingan geopolitik dan ekonomi global yang saling berebut pengaruh.
Dalam penyampaiannya, Rendy mengkritik keras kebijakan kedua negara tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk imperialisme dalam percaturan politik dunia.
Di sisi lain, Assoc Prof Dr Rendi Prayuda menjelaskan bahwa eskalasi yang terjadi di Timur Tengah saat ini telah mengarah pada bentuk perang terbuka karena melibatkan kekuatan militer antarnegara.
“Jika serangan sudah terjadi antara militer dengan militer, maka itu tidak lagi sekadar konflik, tetapi sudah masuk kategori perang,” ujarnya.
Founder Rumah Baca Teratak Literasi, Nugroho Noto Susanto yang sekaligus membuka acara, mengatakan diskusi tersebut digelar sebagai ruang edukasi publik guna menambah wawasan terkait dinamika geopolitik global yang tengah berlangsung.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi refleksi atas momentum peringatan satu pekan wafatnya pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, serta bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret.
“Semoga apa yang dipaparkan para narasumber dapat memberikan manfaat dan memperkaya perspektif kita semua,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta yang antusias mengikuti pembahasan hingga akhir acara. (srn3)