SIARAN.CO.ID, BENGKALIS– Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Kecamatan Bengkalis, Anggota DPD RI/MPR RI, Arif Eka Saputra SPi, berlangsung khitmad, Minggu (15/3/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Bengkalis ini diikuti tenaga dapur, petugas logistik, serta relawan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sosialisasi tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat pemahaman nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga menjadi ruang dialog bagi para pelaksana program pemenuhan gizi yang selama ini bekerja langsung melayani masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Dalam pemaparannya, Arif menegaskan bahwa 4 Pilar MPR RI, Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, nilai gotong royong dalam Pancasila tercermin dari kerja kolektif tenaga dapur, petugas logistik, dan relawan SPPG dalam menyukseskan program MBG.
Ia menilai peran mereka bukan sekadar teknis, melainkan bagian dari upaya negara mewujudkan kesejahteraan melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
“Program pemenuhan gizi seperti MBG mencerminkan nilai keadilan sosial dalam Pancasila. Negara harus memastikan setiap anak mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh sehat dan memperoleh asupan gizi yang layak,” ujar Arif..
Ia menambahkan, UUD 1945 menegaskan tanggung jawab negara dalam melindungi dan menyejahterakan rakyat. Karena itu, program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat harus dijalankan secara baik, transparan, dan berkelanjutan.
Dalam sesi dialog, para peserta mengangkat sejumlah isu teknis di lapangan, mulai dari tantangan distribusi bahan pangan, manajemen dapur, hingga pentingnya menjaga standar kualitas makanan bagi penerima manfaat. Aspek logistik dan pengawasan mutu menjadi perhatian utama agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.
Menanggapi hal itu, Arif menyatakan berbagai masukan dari pelaksana lapangan sangat penting sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan program.
“Sosialisasi ini bukan hanya memperkuat wawasan kebangsaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengar pengalaman dan aspirasi para relawan serta tenaga kerja yang berada di garis depan pelayanan masyarakat,” ungkapnya.(srn3)